Thursday 27 December 2007

Debitur, Pindah Kelain Hati ( Pasar Modal VS Perbankan )


Oleh Beni Sindhunata, Direktur Eksekutif INBRA

Merger BES-BEJ menjadi BEI yang ditargetkan menjadi bursa kelas dunia dengan kapitalisasi pasar Rp 2.100 triliun akan memantapkan Bursa Efek Indonesia menjadi salah satu pilar utama perekonomian nasional. Dengan target menjaring 150 emiten antara tahun 2008-2009 maka bursa menjadi sumber baru pendanaan yang potensial bagi dunia usaha disamping perbankan. Terkait dengan perkembangan pasar modal dan penguatan Arsitektur Perbankan Indonesia mak a artikel berikut mengkaji korelasi antara perbankan dan pasar modal yang keduanya sama – sama berfungsi sebagai sumber dana untuk investasi dan pengembangan dunia usaha, dimana secara tidak langsung dua pilar ini sama–sama berusaha meningkatkan kontribusinya bagi perekonomian nasional.
Dari perkembangan selama tujuh tahun terakhir sejak tahun 2000 sampai Juni 2007 menunjukkan bahwa kontribusi bank sebagai penyedia dana (kredit) masih tetap dominan dengan kecenderungan porsinya mengecil dari posisi puncak tahun 2005 sebesar 88,6% menjadi 79,5% tahun 2006 dan 63,8% (April 2007) sementara kontribusi bursa sebagai sumber dana bagi dunia usaha meskipun kecil tapi cenderung meningkat dari posisi terendah 11,4% menjadi 20,5% tahun 2006 dan 36,2% per April 2007. Dana dari pasar modal ini mencakup emisi saham (IPO) dan corporate action lainnya termasuk obligasi. Tujuh tahun yang lalu nilai emisi saham mencapai Rp 206,6 triliun dan obligasi Rp 23,1 triliun sehingga total dana yang berhasil dihimpun oleh dunia usaha dari pasar modal mencapai Rp 229,8 triliun. Pada saat yang sama perbankan secara akumulatif menyalurkan kredit sebesar Rp 225,3 triliun. Dengan demikian gabungan kredit dan hasil emisi dari dua pilar keuangan tersebut mencapai Rp 455,1 triliun dengan kontribusi pasar modal sebesar 50,5% dan sisanya 49,5% dari perbankan.
Lebih dominannya pasar modal saat itu tidak lepas dari perbankan yang masih dilanda krisis dan sedang bergelut menyelesaikan restrukturisasi kreditnya yang sampai saat ini belum tuntas. Selanjutnya porsi bank mulai meningkat dan mencapai titik puncak tahun 2005 mencapai 88,6% dan yang kemudian menurun lagi menjadi 63,8% per April 2007. Dinamika di pasar modal juga mengalami pasang surut dan cenderung menurun mencapai titik terendah 11,4% tahun 2005 dan meningkat lagi menjadi 36,2% per April 2007. Pergeseran rasio kontribusi antara bank dan pasar modal ini belum melihat korelasi transaksi keuangan antara emiten di pasar modal yang juga menjadi debitur di perbankan dimana diantara ketiganya (emiten yang merangkap debitur, pasar modal dan perbankan) terjalin transaksi keuangan yang sangat erat. Karena tidak sedikit emiten yang setelah IPO juga menjadi debitur yang menarik kredit dari perbankan untuk kemudian secara bersamaan diinvestasikan ke dunia usaha.
Disamping itu emiten ini juga menjadi deposan yang cukup signifikan sebagai pemilik dana di perbankan nasional. Survey INBRA (“Potensi dan Peluang Deposito di Indonesia, April 2006”) menunjukkan bahwa 188 perusahaan publik punya simpanan Rp. 52,3 triliun pada 3.319 rekening di 79 bank ( bank negara, swasta domestik, asing-patungan) per Juni 2005. Dari jumlah ini terbagi dalam deposito sebesar Rp 33,5 triliun dan giro sebesar Rp 18,8 triliun, sehingga deposito perusahaan publik mewakili 35% total deposito perusahaan swasta nasional (diluar asuransi, jasa keuangan, yayasan dan dana pensiun).
Tidak terdapat komposisi standar atau baku tentang penggunaan dana hasil emisi baik penjualan saham maupun penerbitan obligasi karena komposisinya sangat fleksibel dan tergantung pada kondisi internal masing – masing emiten. Namun sebagian besar dana tersebut disalurkan untuk dua hal utama yakni modal kerja termasuk ekspansi maupun peningkatan kapasitas produksi (rata - rata 25%) dan membayar kewajiban atau hutang ke kreditur atau perbankan (rata– rata 75%). Dengan memperhitungkan komposisi rata – rata diatas dengan catatan tidak semuanya berlaku sama maka diperkirakan dari total emisi maka sebesar Rp 95,8 miliar sekitar 25% disalurkan untuk modal kerja guna pengembangan usaha atau peningkatan kapasitas produksi dan sisanya Rp 287 miliar (75%) dipergunakan membayar hutang dan kewajiban ke perbankan sehingga dana tersebut masuk kembali ke sistem perbankan nasional.
Perkembangan selama tujuh tahun terakhir menunjukkan bahwa perbankan masih menjadi sumber yang dominan sebagai penyandang dana bagi dunia usaha sekitar 63,8% dan 36,2% dari emisi pasar modal (obligasi dan saham) secara kumulatif dari 2000 sampai 2007 tapi kontribusi ini pun mengalami perubahan sesuai perkembangan ekonomi makro nasional namun secara menyeluruh tidak mengalami perubahan drastis. Dengan catatan porsi terbesar dari perbankan sebesar 88,6% tahun 2005 dan porsi terbesar dari pasar modal terjadi tahun 2000 sebesar 36,2%. Komposisi kumulatif ini tidak berbeda jauh dengan komposisi dari pertumbuhan per tahun riil. Lihat tabel perbandingan kredit perbankan dengan emisi dana dari pasar modal 2002-2007.

Perkembangan ini juga menunjukkan bahwa posisi tradisional yang dominan dari perbankan sebagai sumber pendanaan bagi dunia usaha mulai mendapat saingan dan tantangan dari pasar modal yang sangat fluktuatif dan berkembang cepat. Porsi pertumbuhan per tahun ini relatif sama dengan porsi kumulatif. Kondisi ini disatu sisi menjadi prestasi dan hal positif bagi pihak terkait di pasar modal yang mulai tumbuh pesat pada dekade 90-an. Di sisi lain menjadi tantangan sekaligus dorongan bagi perbankan untuk lebih meningkatkan fungsi intermediasinya yang sedikit banyak mulai diambilalih oleh pasar modal dengan kata lain para pengusaha banyak yang membuka akses langsung ke pemilik modal melalui IPO atau corporate action lainnya.
Dalam konteks inilah terjadi peran ganda dimana emiten merangkap menjadi debitur atau sebaliknya sehingga total dana yang diraih oleh perusahaan (dunia usaha) bisa berlipat ganda yakni dari pasar modal dan juga pinjaman perbankan yang besarnya cukup signifikan. Justru korelasi dan keterkaitan yang cukup tinggi ini berpotensi untuk sama – sama terkena risiko yang sama jika dunia usaha mengalami kelesuan sehingga krisis di sektor riil akan menjadi amunisi yang ampuh untuk menimbulkan sentimen negatif bagi dinamika pasar modal yang dengan cepat akan menjalar ke sektor lainnya, demikian juga sebaliknya.
Sebagaimana terungkap dari hasil survey INBRA (Investment and Banking Research Agency) bulan Maret 2007 tentang kredit perbankan ke perusahaan publik (“Pangsa Pasar Perbankan dan Kolektibilitas Kredit”). Tercatat sebesar Rp 115 triliun atau setara 30% dari total kredit perbankan yang disalurkan ke dunia usaha swasta juga diserap oleh 261 perusahaan publik tidak termasuk jasa keuangan. Dari total hutang tersebut maka sebesar Rp 55,4 triliun merupakan hutang jangka panjang, sebesar Rp 46,3 triliun adalah hutang jangka pendek dan sebesar Rp 13,8 triliun adalah hutang yang masuk jatuh tempo (September 2007). Dengan rincian sebesar 36,9% atau Rp 5,1 triliun merupakan hutang valas. Dibandingkan dengan posisi 2005 maka saldo kewajiban dan hutangnya menurun. Lihat tabel.

Indikator Makro Kewajiban
Perusahaan Publik, September 2006 (Rp. triliun)
Sisi positif dari emisi pasar modal ini adalah membantu debitur melunasi kewajibannya kepada perbankan sehingga kolektibilitas kreditnya relatif membaik yang akhirnya memperbaiki NPL perbankan secara keseluruhan.
Dari pertumbuhan kredit perbankan dan emisi di pasar modal dan kapasitas emiten yang menjadi debitur sekaligus deposan diperbankan mempertegas adanya korelasi yang erat antara dunia usaha, pasar modal dan perbankan yang secara bersamaan memiliki peranan yang signifikan dalam pembangunan ekonomi nasional. Korelasi dan transaksi keuangan antara tiga pihak ini menjadi pilar-pilar penting dalam pembentukkan arsitektur keuangan nasional. Adanya undisbursed loan sekitar Rp 150 triliun dan rencana IPO dari BUMN 2008-2009 dan target BEI serta optimistisme pertumbuhan kredit perbankan sebesar 21-22% diperkirakan tidak akan menciptakan perubahan yang drastis, di mana perbankan masih akan dominan sehingga debitur belum pindah ke lain hati.-*-

Dimuat Kompas, 17 September 2007

0 comment:

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP